Sebelum
memulai proses pembelajaran saya berpikir bahwa di topik ini saya akan belajar
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan scaffolding
pada ZPD. Mulai dari kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik saat
melakukan proses pembelajaran, kemudian mempelajari penerapan scaffolding pada pembelajaran. Scaffolding ini digunakan untuk membantu
mengatasi berbagai kesulitan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, proses
pembelajaran dapat menciptakan hasil yang lebih bermakna bagi peserta didik.
Pada
eksplorasi konsep, saya belajar mengenai konsep scaffolding pada ZPD yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Scaffolding
dalam ZPD merupakan konsep yang menekankan pentingnya interaksi antara anak
dengan orang dewasa atau teman sebaya untuk mendukung perkembangan kognitif dan
psikologis. Proses ini melibatkan imitasi yang bertahap hingga anak menjadi
lebih mandiri. Bantuan yang diberikan bersifat sementara dan dirancang untuk
memfasilitasi anak dalam menyelesaikan tugas-tugas yang lebih menantang.
Strategi scaffolding mencakup saran,
petunjuk, instruksi, penjelasan, contoh, dan pertanyaan pemantik, yang dapat
disesuaikan dengan kebutuhan metakognitif, kognitif, maupun motivasi anak.
Melalui kolaborasi dan asistensi yang bertahap, anak mampu menginternalisasi
kemampuan baru dan mengembangkan pemikiran kritis secara mandiri.

Masuk
dalam ruang kolaborasi, saya bersama rekan sekelompok melakukan analisis terkait
kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik di SD tempat saya
melaksanakan PPL 1. Dalam proses analisis, saya bersama rekan sekelompok
menemukan adanya perbedaan kompetensi antar peserta didik. perbedaan kompetensi
ini terlihat dari kemampuan menyelesaikan tugas, memahami instruksi, dan
kecepatan belajar. Beberapa peserta didik menguasai materi dengan baik,
sedangkan yang lain kesulitan memahami konsep dasar. Perbedaan cukup
signifikan, terutama di kelas 3 dengan latar belakang peserta didik yang
beragam. Peserta didik yang memiliki kesulitan, rata-rata berada pada kelompok
peserta didik yang memiliki kompetensi rendah. Peserta didik tersebut memiliki
level kognitif yang berada pada level memahami, namun dengan pemahaman yang
dasar. Hal tersebut terlihat ketika peserta didik mampu mengerjakan soal yang baru
saja dijelaskan oleh guru, Namun bingung saat mengerjakan soal sejenis yang
berbeda. Sebagai calon guru, saya menawarkan strategi kolaboratif, seperti peer tutoring dan diskusi kelompok, sebagai
salah satu metode yang efektif dalam membantu peserta didik yang memiliki
kompetensi rendah. Dengan bimbingan dari guru, kolaborasi antar teman sebaya
mampu meningkatkan pemahaman melalui penjelasan yang sederhana dan relevan bagi
peserta didik. Selain itu, pendekatan individual seperti scaffolding yang bertahap dan penjelasan dengan contoh konkret juga
terbukti efektif dalam mengembangkan kepercayaan diri dan pemahaman peserta
didik secara bertahap, sehingga dapat membantu mengatasi kesenjangan kompetensi
yang ada.
Hal penting yang saya
pelajari dari proses demonstrasi kontekstual bersama rekan sekelompok adalah
pentingnya kerja sama dalam sebuah tim sekaligus pentingnya komunikasi yang
efektif. Dalam prosesnya, saya bersama rekan sekelompok menyampaikan ide,
mendengarkan pendapat, dan mencari solusi bersama untuk memecahkan suatu
masalah. Selain itu, pembagian peran dalam kelompok membantu kami memahami
tanggung jawab masing-masing, sekaligus mengajarkan toleransi dan empati
terhadap perbedaan sudut pandang. Dengan demikian, proses demonstrasi
kontekstual tidak hanya meningkatkan keterampilan sosial, tetapi juga membangun
karakter kami agar lebih siap menghadapi tantangan nyata dalam dunia Pendidikan.

Setelah
mempelajari topik ini, saya memahami pentingnya bantuan atau scaffolding dalam
proses pembelajaran. Melalui pemahaman ini, pengajar akan lebih memperhatikan
lagi bentuk scaffolding yang perlu diberikan
kepada peserta didik untuk mengatasi berbagai kesulitan belajar yang dialami
oleh peserta didik. Sehingga, peserta didik akan mendapatkan hasil belajar yang
maksimal dalam proses pembelajaran. Hal baru yang saya pelajari dalam topik ini
adalah memahami bahwa kurang maksimalnya hasil belajar dapat dipengaruhi oleh
kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik selama proses pembelajaran. Pengajar
baiknya tidak mengabaikan berbagai kesulitan belajar yang dialami oleh peserta
didiknya. Melainkan, harus memperhatikan dan membantu peserta didik mengatasi
kesulitan belajar agar mereka mampu mengikuti proses pembelajaran yang lebih
bermakna. Berdasarkan hal tersebut, saya ingin lebih mempelajari lagi berbagai scaffolding
yang dapat diberikan guru yang lebih sesuai lagi dengan kesulitan belajar yang
dialami oleh peserta didik. Dengan begitu, peserta didik saya dapat memperoleh
lingkungan belajar yang bersifat “menuntun”, inklusif, dan tentunya lebih
bermakna, serta mampu mencapai kemandirian belajar.
Mata
kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia topik 5 ini memiliki
keterkaitan dengan mata kuliah lain yang saya pelajari pada perkuliahan PPG
ini. Filosofi pendidikan berakar pada nilai-nilai sosial dan budaya lokal yang
memengaruhi pandangan tentang tujuan dan metode pengajaran. Memahami filosofi
pendidikan Indonesia, seperti gagasan “memerdekakan peserta didik” oleh Ki
Hadjar Dewantara, membantu calon guru menyadari pentingnya pembelajaran yang
kontekstual dan relevan dengan budaya peserta didik. Ini sejalan dengan
perspektif sosiokultural yang menekankan peran lingkungan sosial dalam
pembelajaran. Dalam perspektif sosiokultural, guru harus menyesuaikan
pendekatan pembelajaran berdasarkan latar belakang sosial dan kultural peserta
didik. Pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan guru untuk mengadaptasi materi
dan strategi berdasarkan kemampuan dan kebutuhan individu, mengingat bahwa tiap
peserta didik memiliki tingkat ZPD yang berbeda. Ini dapat diterapkan dalam
strategi scaffolding dengan menyediakan dukungan yang berjenjang untuk
mengembangkan potensi maksimal peserta didik. Perspektif ini menekankan
pentingnya memahami latar belakang dan karakteristik peserta didik. Dengan
mengadopsi pendekatan sosiokultural, guru bisa lebih memahami konteks belajar peserta
didik, termasuk potensi dan keterbatasan yang mungkin disebabkan oleh
lingkungan mereka. Ini membantu guru dalam merancang strategi scaffolding yang
efektif yang mendukung kebutuhan unik peserta didik. Prinsip asesmen yang
efektif harus memperhitungkan perkembangan dan kemampuan individual peserta
didik, dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan melalui umpan balik yang
sesuai. Dalam konteks sosiokultural, asesmen tidak hanya mengevaluasi kemampuan
individu, tetapi juga bagaimana peserta didik dapat menggunakan dukungan dari
lingkungannya (scaffolding) untuk belajar lebih baik.
Mempelajari topik ini
membantu saya memperoleh manfaat penting sebagai bekal untuk mengajar langsung
di Sekolah Dasar nantinya. Saya menjadi lebih memahami bahwa berbagai kesulitan
dalam pembelajaran yang dialami oleh peserta didik tidak boleh diabaikan oleh pengajar,
melainkan perlu menjadi perhatian bagi guru agar peserta didik mampu memperoleh
kegiatan pembelajaran yang lebih bermakna dan hasil belajar yang lebih maksimal.
Kesiapan saya sebagai pengajar dalam skala 1-10 adalah 8. Kaitannya dengan saya
yang kedepannya akan menjadi guru, saya menyadari bahwa nantinya dalam proses
pembelajaran saya perlu menyiapkan pendekatan, strategi, metode, dan teknik
pembelajaran yang diterapkan sebagai scaffolding pada ZPD yang disesuaikan
dengan kesulitan belajar yang dialami peserta didik. Hal itu dilakukan guru
untuk membantu peserta didik mencapai kemandirian belajar dan mendapatkan
kegiatan pembelajaran yang bermakna. Meskipun demikian, mempelajari teori saja
belum cukup optimal. Saya juga akan meningkatkan kemampuan dengan mempelajari
berbagai studi kasus yang ada dan melakukan praktik langsung di sekolah. Dengan
cara ini, saya akan lebih siap sebagai guru untuk menerapkan teori yang telah
dipelajari selama perkuliahan PPG.
Disusun oleh Elvina Isna Nurjanah (Mahasiswa PPG Calon Guru 2024) untuk memenuhi tagihan mata kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia topik 5.
Baca Selengkapnya