Minggu, 02 Maret 2025

Hasil Diskusi dan Penilaian pada Ruang Kolaborasi Topik 3

Lembar Kerja Ruang Kolaborasi


Kelompok 4B:

1.      Aisah Nuraini

2.      Elvina Isna Nurjannah

3.      Henggar Sulistyowati

 

Tabel 2.1. Penilaian Teman Kelompok

 

Penilaian dari teman kelompok (Lembar yang dianalisis milik Deby Pitaloka)

Kriteria Penilaian

Anggota 1 (Aisah)

Anggota 2 (Elvina)

Anggota 3 (Henggar)

Apakah cara mengerjakan soal yang dituliskan dapat dipahami?

A - Penjelasannya cukup jelas dan mudah dipahami.

A - Jawaban runtut dan sistematis.

B - Ada beberapa bagian yang perlu diperjelas agar lebih mudah dipahami.

Apakah cara mengerjakan soal sudah lengkap?

A - Semua langkah sudah dijelaskan dengan baik.

B - Ada bagian yang terasa singkat, mungkin bisa lebih dijelaskan.

B - Penjelasannya cukup baik, tapi bisa ditambahkan sedikit detail lagi.

Apakah cara mengerjakan dapat        diikuti        tanpa menimbulkan keambiguan?

A - Langkah- langkahnya jelas dan mudah diikuti.

A - Tidak ada bagian              yang membingungkan.

B - Beberapa istilah bisa               diberikan penjelasan tambahan agar lebih mudah dipahami.

Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar?

A - Semua fondasi CT sudah sesuai dan relevan dengan soal.

A - Fondasi CT yang digunakan sudah tepat.

A - Sudah benar dan sesuai konsep.


Apakah 4 fondasi CT yang dituliskan            dijelaskan dengan lengkap?

A - Sudah cukup lengkap              dan mendetail.

B           -           Bisa ditambahkan sedikit contoh            untuk memperjelas.

B - Penjelasannya sudah baik, tetapi akan lebih baik jika diberikan           contoh

aplikasi               dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan?

A - Contohnya sesuai dan mudah dipahami.

A - Relevan dengan permasalahan yang diberikan.

A    -     Sudah    sesuai dengan konteks soal.

 

Tabel 2.2: Perbaikan yang perlu dilakukan

 

Nomor Soal

 

Hal yang perlu diperbaiki

 

Masukan atau saran perbaikan

1

Jawaban mengenai solusi belum eksplisit

Bisa ditambahkan penjelasan lebih rinci agar lebih jelas bagi pembaca

2

Langkah berpikir sudah baik, tetapi kurang penjelasan mengenai cara kerja algoritma

Berikan contoh sederhana dalam penerapan algoritma agar lebih mudah dipahami

3

Penjelasan fondasi CT cukup baik, tetapi perlu diberikan lebih banyak contoh konkret

Tambahkan ilustrasi atau contoh yang lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari agar lebih mudah dipahami



Rubrik penilaian untuk masing-masing kriteria diberikan di Tabel 2.3.

Tabel 2.3: Rubrik Penilaian untuk Masing-masing Kriteria

 

A = Sangat Baik

B = Baik

C = Cukup

D = Kurang

Jika    ketiga    soal memenuhi kriteria

Jika hanya 2 soal yang memenuhi kriteria

Jika hanya 1 soal yang memenuhi kriteria

Jika ketiga-tiganya tidak           memenuhi kriteria

 

Unggahan ini disusun oleh Elvina Isna Nurjanah, dkk untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Computational Thinking Topik 3 Ruang Kolaborasi sebagai portofolio mata kuliah. 

Baca Selengkapnya

Lembar Kerja Mahasiswa Eksplorasi Konsep - CT Topik 3

 

T3-3a Eksplorasi Konsep – Lembar Kerja Mahasiswa

Nama/NIM: Elvina Isna Nurjanah/2422520030

Jenjang/mata pelajaran yang diampu: Sekolah Dasar

Unit/No Unit: Reading/3

Judul Soal: Graffiti

No

Pertanyaan

Jawaban

1

Tuliskan solusi untuk soal ini!

3.1 B. Menyampaikan pendapat tentang graffiti

3.2 Sophia membandingkan graffiti dengan poster iklan untuk menunjukkan bahwa masyarakat menerima poster iklan yang memenuhi ruang publik dan menolak graffiti.

3.3 Saya lebih setuju dengan Sophia karena Sophia lebih berpikir terbuka. Ia juga menunjukkan bahwa graffiti dapat dianggap sebagai karya seni sebagai media iklan.

3.4 Surat Sophia karena Sophia menggunakan perbandingan dan logika yang kuat untuk berpendapat

2

Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini!

Ø  Membaca dan memahami soal/pertanyaaan yang disajikan terlebih dahulu.

Ø  Menganalisis isi dari surat yang ditulis Helga dan Sophia.

Ø  Menyusun jawaban yang paling sesuai dengan pertanyaan yang diberikan.

3

Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini!

·    Dekomposisi: Membagi soal menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah dipahami dan dianalisis:

1)      Soal 3.1 menanyakan tuuan dari surat yang ditulis Helga dan Sophia

2)      Soal 3.2 menganalisis alasan Sophia membahas periklanan

3)      Soal 3.3 menanyakan pendapat saya lebih setuju pada argument Helga atau Sophia

4)      Soal 3.4 mengidentifikasi surat yang lebih baik

·    Pengenalan Pola: Mengenal pola dalam surat yang berisi argumen dari Helga dan Sophia. Helga memaparkan dampak negatif dari graffiti, sedangkan Sophia dapat berpikir lebih terbuka dengan membandingkan graffiti dengan iklan yang sama-sama memnuhi ruang publik.

·    Abstraksi: Memahami isi dari kedua surat dengan menyaring jawaban untuk pertanyaan yang diberikan.

·    Algoritma: Menyusun langkah-langkah logis dalam penyelesaian masalah

1)      Membaca dan memahami isi setiap surat.

2)      Mengidentifikasi tujuan dan argumen utama masing-masing penulis.

3)      Membandingkan dengan pertanyaan dan menememukan jawaban yang sesuai.

4)      Menggunakan bukti dari surat untuk mendukung jawaban.

5)      Menyusun jawaban secara jelas dan sistematis.

 

Nama/NIM: Elvina Isna Nurjanah/2422520030

Jenjang/mata pelajaran yang diampu: Sekolah Dasar

Unit/No Unit: Mathematics/7

Judul Soal: Speed of Racing Car

No

Pertanyaan

Jawaban

1

Tuliskan solusi untuk soal ini!

7.1 B (Jarak dari garis start ke bagian lintasan lurus terpanjang adalah 1,5 km

7.2 C (Kecepatan terendah yang tercatat selama putaran kedua adalah di titik ke 1,3 km

7.3 B (diantara titik 2,6 km dan 2.8 km kecepatan mobil bertambah)

7.4 B (Lintasan yang paling sesuai dengan pola grafik kecepatan adalah B)

2

Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini!

Ø  Membaca dan memahami soal/pertanyaaan yang diberikan terlebih dahulu.

Ø  Memahami dan menyesuaikan grafik dengan lintasan yang disediakan.

Ø  Memeriksa titik spesifik dalam grafik yang disesuaikan dengan pertanyaan yang diberikan.

3

Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini!

·    Dekomposisi: Membagi soal menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah dipahami dan dianalisis:

1)      Soal 7.1 mencari jarak dari garis start ke bagian lintasan lurus terpanjang

2)      Soal 7.2 menentukan titik dengan kecepatan mobil paling rendah

3)      Soal 7.3 menganalisis perubahan kecepatan diantara 2,6 km dan 2.8 km

4)      Soal 7.4 menentukan lintasan yang sesuai dengan grafik kecepatan

·    Pengenalan Pola: Grafik menunjukkan perubahan kecepatan mobil di berbagai titik trek. Kita bisa melihat tren naik-turun yang mungkin disebabkan oleh belokan atau trek lurus. Bagian dengan kecepatan yang relatif stabil menunjukkan trek lurus. Kemudian, titik-titik kecepatan rendah kemungkinan terjadi pada belokan tajam atau area pengereman

·    Abstraksi: Memfokuskan penyelesaian solusi pada elemen-elemen utama saja, yaitu jaraak, kecepatan terendah, dan perubahan kecepatan di titik-titik tertentu.

·    Algoritma: Menyusun langkah-langkah logis dalam penyelesaian masalah

1)      Membaca dan memahami setiap soal.

2)      Memahami dan menyesuaikan grafik dengan lintasan yang disediakan.

3)      Memeriksa titik spesifik dalam grafik yang disesuaikan dengan pertanyaan yang diberikan.

4)      Memilih jawaban yang paling sesuai.




Unggahan ini disusun oleh Elvina Isna Nurjanah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Computational Thinking Topik 3 Eksplorasi Konsep sebagai portofolio mata kuliah. 

Baca Selengkapnya

Penerapan Soal Bebras dalam Kehidupan Sehari-hari

 Soal Bebras yang dipilih:


Solusi:

Jawaban yang tepat adalah D

Penjelasan:

Rena tidak memilih opsi (A) atau opsi (C) karena beruang-beruang itu berkacamata.

Rena tidak memilih opsi (B) karena beruang itu tidak mengenakan selendang atau pita.

Rena memilih opsi (D). Beruang di opsi (D) memiliki bintang di kakinya, mengenakan selendang, dan tidak berkacamata.

 

Penerapan Soal Bebras dalam Kehidupan sehari-hari

Penerapan soal Bebras di atas dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemukan dalam berbagai situasi yang melibatkan pengambilan keputusan berdasarkan beberapa kriteria. Berikut contoh penerapan soal bebras diatas dalam kehidupan sehar-hari.

1.      Memilih transportasi berdasarkan preferensi tertentu

Seorang peserta didik hanya boleh mengenakan pakaian yang memiliki warna tertentu (misalnya biru atau putih) dan tidak boleh memakai aksesori mencolok. Jika peserta didik mengenakan pakaian berwarna biru dan tidak memakai aksesori mencolok, maka ia memenuhi aturan sekolah.

2.      Memilih pakaian sesuai aturan sekolah

Seseorang ingin memilih transportasi yang cepat dan murah, tetapi tidak ingin naik kendaraan yang terlalu padat. Jika ada pilihan yang memenuhi kriteria kecepatan dan harga tetapi tetap nyaman, maka itulah yang akan dipilih.

3.      Kebutuhan Menyaring Kandidat dalam Perekrutan Kerja

Sebuah perusahaan mencari karyawan dengan kriteria tertentu: kandidat harus memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun atau memiliki sertifikasi khusus. Namun, kandidat yang tidak memiliki ijazah S1 akan langsung didiskualifikasi. Dengan menerapkan logika seperti dalam soal Bebras, HR dapat menyaring pelamar yang memenuhi kriteria tanpa perlu mengecek satu per satu secara manual.


Unggahan ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Computational Thinking Topik 2 Koneksi Antar Matersi sebagai portofolio mata kuliah. oleh Elvina Isna Nurjanah


Baca Selengkapnya

Sabtu, 01 Februari 2025

Esai Refleksi Mata Kuliah Computational Thinking Topik 1 (Aksi Nyata)

 

Pada semester kedua saya menjalani kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG) ini, saya mempelajari mata kuliah Computational Thinking. Saya berharap melalui mata kuliah Computational Thinking ini, saya dapat memahami cara berpikir sistematis untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam dunia Pendidikan. Target utama saya dalam mengikuti mata kuliah Computational Thinking ini adalah dapat menerapkan prinsip Computational Thinking dalam perencanaan pembelajaran dan penyusunan strategi mengajar agar peserta didik dapat mengembangkan keterampilan berpikir logis, analitis, dan kreatif. Selain itu, saya juga ingin menemukan cara efektif untuk mengintegrasikan Computational Thinking ke dalam berbagai mata pelajaran, khususnya yang saya ajarkan di SD.

Sebelum mempelajari lebih mendalam mengenai Computational Thinking, saya mengira bahwa Computational Thinking hanya berkaitan dengan pemrograman saja. Namun pada mata kuliah ini, saya banyak belajar hal baru mengenai Computational Thinking bahwa Computational Thinking itu tidak selalu berkaitan dengan pemrograman atau komputer saja, melainkan saya memahami bahwa Computational Thinking berkaitan dengan keterampilan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang sistematis dan berfokus pada elemen berpikir logis dan kritis. Saya juga memahami empat fondasi utama Computational Thinking, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma, yang semuanya sangat relevan dalam proses berpikir manusia, bukan hanya komputer.

Dengan mempelajari mata kuliah Computational Thinking, saya merasa bahwa keberadaan Computational Thinking dalam kehidupan sehari-hari saya sangatlah penting. Dalam dunia Pendidikan, Computational Thinking membantu guru dan peserta didik berpikir sistematis dalam memahami dan menyelesaikan masalah. Misalnya, dalam menyusun Modul Ajar, saya menerapkan dekomposisi dengan cara membagi pembelajaran menjadi beberapa sesi, saya menggunakan pengenalan pola dalam memahami karakteristik peserta didik, abstraksi untuk fokus pada materi inti, dan algoritma dalam menyusun langkah-langkah pembelajaran. Tidak hanya dalam Pendidikan, Computational Thinking juga membantu berbagai aktivitas sehari-hari saya, seperti memasak sop, menyusun rencana liburan, membuat kue, atau mencuci baju.

Setelah belajar mengenai Computational Thinking, saya merasa lebih terbuka untuk menerapkan prinsip-prinsip dari Computational Thinking dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam dunia Pendidikan. Materi Computational Thinking ini membuat saya lebih memahami mengenai cara berpikir logis dan kritis. Hal ini tentunya berfungsi dalam menyelesaikan suatu tugas atau masalah di kehidupan sehari-hari secara sistematis dan efisien. Saya juga semakin sadar bahwa berpikir sistematis tidak hanya penting dalam teknologi saja, namun juga berperan dalam pengambilan keputusan di kehidupan sehari-hari.

Kendala yang mungkin akan saya hadapi selama mengikuti mata kuliah ini adalah pemahaman yang lebih mendalam dalam menghubungkan Computational Thinking dengan mata pelajaran di SD secara konkret. Tidak semua peserta didik memiliki pola pikir yang sama, sehingga tantangan terbesar adalah bagaimana mengajarkan Computational Thinking dengan cara yang mudah dipahami oleh anak-anak. Untuk mengatasi kendala ini, saya berencana untuk mempelajari lebih banyak contoh penerapan Computational Thinking dalam Pendidikan dasar, serta berdiskusi dengan teman, dosen, maupun guru untuk mendapatkan wawasan baru.

Mata kuliah Computational Thinking memberikan wawasan baru tentang cara berpikir sistematis yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Harapan saya adalah dapat menerapkan konsep ini dalam pembelajaran di sekolah dasar, agar peserta didik dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis sejak dini. Meskipun ada tantangan dalam menghubungkan Computational Thinking dengan kurikulum SD, saya akan berusaha mencari strategi yang efektif agar Computational Thinking dapat diterapkan dengan baik di kelas.

Baca Selengkapnya

Hasil Diskusi Demonstrasi Kontekstual Topik 1 - Computational Thinking

 




Baca Selengkapnya

Hasil Diskusi Ruang Kolaborasi Topik 1 - Computational Thinking

 







Baca Selengkapnya

Computational Thinking

 

(Sumber: canva.com)

Computational Thinking (CT) merupakah salah satu mata kuliah yang saya pelajari dalam Pendidikan Profesi Guru (PPG). Sebelum mempelajari CT, saya mengira bahwa CT adalah sesuatu yang harus selalu berkaitan dengan komputer atau pemrograman saja. Kemudian setelah saya mempelajari CT lebih lanjut, saya memahami bahwa CT adalah keterampilan berpikir yang digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah serta mencari solusi yang efektif, efisien, dan optimal, baik yang bisa dijalankan oleh manusia maupun komputer. CT tidak hanya terbatas pada pemrograman komputer tetapi lebih pada bagaimana cara berpikir dalam memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. CT menekankan pada identifikasi akar masalah, pengolahan data secara logis, penggunaan pola berpikir algoritmik, serta penerapan solusi yang sistematis dan dapat diterapkan pada berbagai situasi. CT memiliki peran penting dalam dunia yang terus berkembang, terutama dengan munculnya Industri 4.0 dan Society 5.0, di mana teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan big data semakin berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. CT tidak hanya membantu dalam menyelesaikan masalah berbasis teknologi tetapi juga dalam kehidupan nyata.

CT relevan dalam dunia pendidikan karena:

  • Membantu peserta didik berpikir secara sistematis dan kritis.
  • Mendukung metode pembelajaran seperti problem-based learning dan project-based learning.
  • Membantu dalam pengambilan keputusan yang optimal berdasarkan data dan informasi yang tersedia.
  • Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, yang sangat dibutuhkan di berbagai bidang. 

CT memiliki empat elemen utama yang menjadi dasar dalam pemecahan masalah:

1. Dekomposisi (Decomposition)

  • Membagi masalah besar menjadi sub-masalah yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola.
  • Contoh: Dalam menyusun acara pernikahan, tugas besar dibagi menjadi bagian kecil seperti pemilihan tempat, daftar tamu, katering, dekorasi, dan lain-lain.

2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition)

  • Mengidentifikasi kesamaan atau pola dari masalah yang pernah dihadapi untuk menemukan solusi yang lebih efektif.
  • Contoh: Dalam menyusun jadwal belajar, seseorang dapat mengenali waktu yang paling produktif dari kebiasaan sebelumnya.

3. Abstraksi (Abstraction)

  • Menyaring informasi dan hanya fokus pada elemen yang paling penting dalam menyelesaikan masalah.
  • Contoh: Saat merencanakan anggaran belanja mingguan, kita hanya fokus pada kebutuhan utama dan tidak terjebak pada detail kecil seperti merek produk.

4. Algoritma (Algorithm)

  • Menyusun langkah-langkah sistematis yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah.
  • Contoh: Mencuci pakaian dengan mesin cuci memiliki langkah-langkah terstruktur, seperti memisahkan pakaian, memilih program pencucian, dan menambahkan detergen.
(Sumber: canva.com)

CT dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik yang menggunakan komputer maupun tidak. Berikut ini merupakan contoh penerapan dari CT.
  • Merencanakan perjalanan liburan: Menggunakan dekomposisi untuk membagi tugas (pemilihan destinasi, transportasi, akomodasi), mengenali pola dari pengalaman sebelumnya (membeli tiket lebih awal untuk hemat), menggunakan abstraksi untuk fokus pada faktor utama, dan menyusun algoritma perjalanan
  • Pengelolaan data sekolah: Seorang kepala sekolah dengan jumlah peserta didik yang berbeda akan memilih metode pencatatan yang sesuai, mulai dari pencatatan manual di buku, spreadsheet, hingga sistem manajemen data otomatis.
  • Menyelesaikan tantangan sehari-hari: Seperti memilih rute perjalanan yang paling cepat, menyusun strategi belajar yang optimal, dan merancang proyek berbasis data.
CT bukan sekedar keterampilan teknis, tetapi juga melibatkan pola pikir dan kebiasaan belajar, sehingga untuk membentuk disposisi CT seseorang perlu melakukan berapa hal.
  1. Memiliki kemampuan dalam analisis masalah dan penyelesaian masalah.
  2. Memiliki motivasi untuk berpikir sistematis dalam berbagai situasi.
  3. Memiliki sensitivitas dalam mengenali kapan harus menggunakan CT.
(Sumber: canva.com)

Peserta didik perlu dibiasakan untuk berpikir secara computational, baik dalam mata pelajaran seperti Informatika maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan beberapa hal di atas, dapat disimpulkan bahwa CT adalah keterampilan berpikir yang berfokus pada cara menemukan dan menyelesaikan masalah secara efektif, efisien, dan optimal. Dengan empat fondasi utama (dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma), CT dapat diterapkan dalam berbagai situasi, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari. Untuk mengajarkan CT, seorang guru perlu terlebih dahulu memahami konsep dan membiasakan diri menggunakannya dalam berbagai konteks.

Baca Selengkapnya

Computational Thinking - Topik 4

 Pada tulisan kali ini akan saya sajikan pekerjaan saya pada mata kuliah Computational Thinking di Topik 4 pada alur Mulai dari Diri dan Eks...